Start Small Make Progress, PLTP Merah Putih Skala Kecil Pertama Siap Berkibar

 

Benua maritim Nusantara adalah “ring of fire”, sehingga kaya potensi sumber energi panas bumi, bahkan diakui termasuk terbesar di dunia. Namun realita pemanfaatannya masih “miskin”.

“Saat ini pemanfaatannya untuk listrik baru mendekati 6% dari total potensi sumber energi panasbumi sebesar 28 GW lebih, sehingga peluangnya masih sangat besar untuk pembangunan PLTP (Pembangkit Listrik Tenaga Panasbumi) baru” ungkap Kepala Program PLTP, M.A.M Oktaufik pada (5/3).

Peluang tersebut bisa dipandang sebagai potensi pasar yang besar untuk mambangun industri manufaktur baru dalam negeri. Hingga kini PLTP yang ada masih didominasi oleh teknologi impor, dengan tingkat kandungan lokal rendah (dibawah 20%). “Kenyataannya memang belum ada industri manufaktur nasional yang memproduksi teknologi PLTP untuk memenuhi kebutuhan nasional yang semakin meningkat”, ujar Oktaufik.

“Padahal, dalam RUPTL PLN telah direncanakan adanya pembangunan PLTP Baru hingga  2030 sekitar lima kali lipat kapasitas saat ini, yaitu dari 1,7 GW pada 2017 menjadi 9,3 GW pada 2030”, imbuhnya.

Dalam RPJMN 2015-2019 pengembangan pemanfaatan sumber energi panasbumi memang menjadi prioritas nasional Pemerintah untuk kedaulatan energi. Teknologi pemanfaatan energi Panasbumi, seperti juga sumber-sumber energi terbarukan lainnya, semakin mendesak untuk dikembangkan sebagai pengganti sumber energi fosil yang semakin berkurang dan tidak ramah lingkungan. BPPT secara khusus ditugaskan melakukan inovasi dan layanan teknologi PLTP Nasional berskala kecil 100 kW – 5 MW, untuk selanjutnya menghasilkan rekomendasi teknologi dan industri PLTP Nasional.

BPPT melalui Balai Besar Teknologi Konversi Energi (B2TKE), telah memasuki tahap-tahap akhir pengembangan teknologi nasional  PLTP skala kecil tersebut dengan 2 kegiatan utama, yaitu:  Pilot-

Plant PLTP teknologi condensing turbine dengan kapasitas 3 MW di Kamojang, dan Demo-Plant PLTP teknologi Siklus Biner (binary cycle, atau Organic Rankine Cycle/ORC) dengan kapasitas 500 kW di Lahendong.

Pilot Plant yang bisa disebut sebagai PLTP “Merah Putih” Skala Kecil pertama tersebut didisain secara reverse engineering oleh Tim BPPT. Seluruh komponen utamanya, seperti Turbin, Generator, Kondenser, dan Demister/Separator, Cooling Tower, difabrikasi oleh manufaktur lokal.

Menurut Kepala B2TKE, Andhika Prastawa, Pilot Plant tersebut memiliki Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) yang maksimal, yaitu mendekati 70%. Padahal Permen Menperin No.54/2012 mensyaratkan TKDN 42% untuk mendorong pembangunan sektor industri nasional.

Kini Pilot Plant tersebut sudah dioperasikan dalam tahapan pengujian, dan telah melalui beberapa kali tahap uji operasi sinkron ke jaringan PLN 20 kVA sejak tahun 2017 lalu. Tahapan uji operasi tersebut telah memberikan pengetahuan untuk penyempurnaan standar pengoperasian maupun disain.  Tahun ini ditargetkan untuk dapat uji operasi kontinyu, sehingga selanjutnya bisa menghadapi uji Sertifikat Laik Operasi (SLO).

Sedangkan Demo-Plant PLTP ORC di Lahendong, yang merupakan kerjasama R&D dengan Pemerintah Jerman melalui lembaga riset Panasbuminya, GeoForschungsZentrum (GFZ), telah berhasil melakukan uji operasi kontinyu selama kurang lebih 2 bulan. Demo Plant ini didisain bersama oleh Tim BPPT dan GFZ-Jerman, namun fabrikasi unit ORC dilakukan di Jerman dan berbasis pada teknology yang sudah state-of-the-art, sedangkan unit utilitas berupa siklus Pemanas (Brine) dan Siklus Pendingin difabrikasi di Industri lokal.

Saat ini sedang dilakukan beberapa penyempurnaan minor terhadap disain dan operasi, sebagai hasil evaluasi uji operasi kontinyu tersebut. Diharapkan dalam waktu dekat dapat dioperasikan kembali secara kontinyu dan menghadapi uji SLO.

Andhika menegaskan bahwa Pilot Plant tersebut akan diresmikan pengoperasiannya untuk pengujian jangka panjang pada pertengahan tahun ini.

Upaya melahirkan kapasitas nasional dibidang teknologi pemanfaatan sumber energi panas bumi, khususnya PLTP dengan TKDN yang lebih tinggi, secara langsung berarti membangun industri manufaktur baru. Hal ini tentunya akan memberikan keuntungan optimal dan signifikan dari penerapan teknologi nasional bagi perekonomian negara di masa mendatang. Baik itu dari dari aspek devisa negara, maupun juga perekonomian masyarakat dari peningkatan lapangan kerja baru. Selain itu juga memberikan dampak pada terciptanya Kemandirian Energi Nasional, dan mendukung percepatan pembangunan jangka menengah pada infrastruktur Kelistrikan yang bersih (clean electricity).

Dengan kemajuan operasi pengujian yang dicapai kedua unit PLTP skala kecil ini, diharapkan mampu mendukung terciptanya kemandirian energi nasional dan meningkatkan kapasitas industri manufaktur nasional, sehingga memberikan multiplier effect terhadap berkembangnya perekonomian nasional.

PLTP Merah Putih pertama bagaikan bendera yang sudah terpasang di tiang, siap untuk berkibar bila angin berhembus.(pltp).

spacer

Leave a reply