Dua Unit Prototipe PLTP Skala Kecil BPPT Menuju Tahap Komisioning

 

Kegiatan penelitian dan pengembangan teknologi Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Skala Kecil BPPT yang dilakukan oleh Balai Besar Teknologi Konversi Energi (B2TKE) yang menghasilkan dua unit prototipe tipe Kondensing dan Siklus Biner, kini memasuki tahap akhir menuju komisioning. Berbagai pengujian telah dilakukan untuk mengetahui kemampuan dan karakteristik operasi sistem serta komponennya dalam melakukan proses konversi energi listrik hingga sinkronisasi terhadap dinamika jaringan listrik PLN. Hasil dari pengujian tersebut diperlukan untuk memastikan prosedur komisioning hingga mendapatkan Sertifikat Laik Operasi (SLO).

Unit pertama memiliki kapasitas 3 MW tipe Kondensing, berlokasi di lapangan panas bumi Kamojang Jawa Barat, merupakan PLTP Nasional pertama dengan kandungan lokal lebih dari 60%. Semua komponen utamanya didisain dan difabrikasi di dalam negeri. Tim B2TKE telah sukses melakukan uji operasi sinkron pada (28/2) yang disaksikan langsung oleh Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Mohamad Nasir.

Sementara unit kedua berkapasitas 500 kW tipe Siklus Biner atau Organic Rankine Cycle(ORC) ditempatkan di kawasan PLTP PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) di Lahendong, Sulawesi Utara yang memasok brine untuk unit ORC tersebut.

Pengujian Prototipe PLTP 3 MW di Kamojang

Prototipe PLTP 3 MW di Kamojang yang telah mendapatkan sertifikat laik sinkron ke jaringan PLN di wilayah Kamojang sejak tahun lalu. Hingga agustus 2017 berhasil dioperasikan dan sinkron ke jaringan PLN, dan sudah berhasil menyalurkan listrik sekitar 7000 kWh.

“Uji operasi dan sinkron tersebut telah dilakukan sejak tahun lalu, namun dilakukan dengan hati-hati, yaitu secara bertahap dari kapasitas rendah sekitar 250 kW hingga maksimum 1 MW”, dikutip dari Kepala Program Kegiatan PLTP, M.A.M Oktaufik.

“Batas maksimum 1 MW tersebut adalah besaran kapasitas listrik yang sementara ini diperkenankan dan dianggap aman oleh PLN DJB (Distribusi Jawa Barat) untuk disalurkan ke jaringan 20 kV setempat”, tambah Oktaufik.

Pentahapan operasi tersebut perlu dilakukan, karena prototipe tersebut baru pertama kali dibuat. Sehingga profil dan karakteristik yang nyata masih perlu dibuktikan. Beberapa aspek penting yang diamati antara lai adalah profil getaran dan kemampuan respon serta kestabilan dan pengendalian sistem terhadap dinamika proses dan jaringan yang ada.

Sejak memperoleh hasil pada saat awal sinkron ke jaringan, telah dilakukan berbagai modifikasi minor terhadap peralatan dan juga pola serta prosedur operasi, sehingga diperoleh operasi yang semakin stabil dan getaran yang berada ada kondisi aman.

Pada uji operasi dan sinkron terakhir yang dilakukan akhir Agustus lalu, kondisi operasi stabil pada kapasitas maksimum sekitar 1 – 1.2 MW, dengan getaran yang cukup aman telah tercapai.

Selanjutnya untuk skenario uji operasi yang lebih tinggi dari 1 MW hingga 3 MW masih akan dibahas dengan pihak PLN DJB dan wilayah Garut. Selain itu, hasil pengamatan dan evaluasi dari pengujian tersebut masih menunjukkan beberapa peluang penyempurnaan dan optimasi, antara lain pada sistem kontrol governor, balance unit generator, dan beberapa aspek operasi, agar dapat dilakukan operasi secara kontinyu dengan hasil yang mendekati optimal.

Pengujian Prototipe PLTP ORC 500 kW di Lahendong

Prototipe unit kedua, PLTP siklus Biner atau ORC di Lahendong, awal September ini mulai diuji operasikan kembali setelah dilakukan pergantian Turbin dan beberapa modifikasi pada sistem Penukar Kalor Utiliti.

Modifikasi tersebut diputuskan berdasarkan hasil pengujian pada tahun lalu yang menunjukkan beberapa masalah operasi dan kinerja yang kurang sesuai. Pergantian turbin dilakukan oleh pihakGeoForschungsZentrum (GFZ) di fabrikannya di Jerman, dan selesai hingga pelaksanaan Factory Acceptance Test (FAT) pada akhir Januari lalu. Sedangkan modifikasi di unit utiliti dapat dilakukan di lokasi.

Setelah instalasi Turbin dan beberapa mofikasi komponen selesai pada pertengahan September lalu, dilakukan start-up unit ORC secara bertahap yang berlangsung dengan mulus dan dilanjutkan dengan uji operasi dengan mengalirkan listrik yang dihasilkan ke jaringan PT PGE. Hingga minggu ketiga September ini uji operasi telah dilakukan secara bertahap selama kurang lebih 50 jam operasi.

Pentahapan operasi adalah dari kapasitas rendah hingga maksimum sekitar 300 kW, serta beberapa kali dihentikan untuk melakukan evaluasi kondisi peralatan, prosedur operasi, maupun karena terjadinya pemadaman listrik di areal pengujian.

Rabu (27/9) mendatang tim BPPT, GFZ dan PT PGE  akan melakukan evaluasi teknis secara komprehensip di Lahendong. Pada pertemuan tersebut diharapkan dapat menentukan prosedur operasi serta jadwal pasti untuk komisioning yang rencananya dimulai pada pertengahan Oktober 2017. Selain itu akan dibahas juga beberapa penyempurnaan dari aspek teknis yang masih bermasalah atau kinerjanya dibawah dari kondisi yang diharapkan.(pltp).

spacer

Leave a reply